Tips Mengajarkan Literasi Keuangan Sejak Dini

Home » Tips Mengajarkan Literasi Keuangan Sejak Dini

Sudah hampir satu semester ini si kakak sudah kelas 1 Sekolah Dasar. Banyak sekali perubahan positif yang dialaminya dibandingkan saat duduk di TK. Yang paling terlihat si Kakak jadi lebih mandiri, pintar dan juga paham apa itu uang. Bagi saya uang cukup penting diajarkan pada anak  dengan tujuan bukan saja mengetahui nilai uang tetapi juga menghargainya.

Sejak memasuki SD, setiap hari si Kakak mendapatkan uang saku. Meskipun membawakan bekal dari rumah seperti jajan atau minuman, uang saku tersebut bisa untuk keperluan dia yang tidak terduga

Tujuan memberikan uang saku bukan mengajarkan anak hidup boros tetapi bagaimana ia bisa mengelola uang itu sendiri. Sehingga dari uang saku itu sekaligus dapat mengajarkan literasi keuangan kepada anak. Jadi dia tahu apa fungsi uang, berapa besar nilainya hingga cara menyimpannya sehingga bisa menghargai uang. Tentu saja cara mengajarkannya harus sesuai dengan usianya.

Manfaat mengajarkan literasi keuangan sejak dini

Menghindarkan anak bersifat boros

Beberapa waktu lalu anak saya minta mainan seperti temannya. Pada saat itu memang kondisi keuangan sedang tidak bagus karena di akhir bulan sehingga saya tidak membelikannya. Dia pun mengatakan kepada saya gimana kalau kita mengambil uang di ATM untuk beli mainan. Dia beranggapan cukup datang ke ATM, menyentuh tombol dan uang akan keluar begitu saja tanpa harus bekerja.

Pemahamannya yang keliru tersebut kemudian saya luruskan. Saya pun menjelaskan untuk bisa mengeluarkan uang dari ATM kita perlu bekerja dulu seperti yang kadang ibu lakukan dengan mengetik di laptop. Dari situ anak jadi tahu ketika saya sedang di depan laptop bekerja dia dengan senang hati mau menjaga adiknya. Dia jadi tahu uang yang didapat dari mesin ATM tidak didapatkan dengan cuma-cuma tetapi harus melalui kerja. Dia pun kemudian lebih menghargai uang karena katanya uang yang didapat dilakukan dengan bekerja keras

Belajar mengelola keuangan

Ketika sekolah saya memberikannya uang saku anak dengan agar ia bisa mengelola uangnya. Saya ingin mengajarkan bagaimana dengan uang sebesar Rp5.000 tersebut bisa digunakan untuk kebutuhannya selama di sekolah seperti membeli minuman atau makanan. Kadang- kadang ia juga harus membeli pensil atau penghapus karena punyanya hilang

Mengenalkan skala prioritas

Tidak selamanya segala kebutuhan dan keinginan harus dipenuhi. Untuk itu kita harus memilih kebutuhan mana yang harus didahulukan. Dengan mengajarkan literasi keuangan ia akan paham mana keinginan yang bisa diwujudkan dan mana yang harus ditunda terlebih dahulu

Trik Mengajari Literasi Keuangan pada Anak

1. Berdiskusi dengan anak tentang keuangan

Ketika anak sudah bisa diajak diskusi, maka bisa mengobrol tentang keuangan. Misalkan bagaimana uang itu didapatkan tentunya harus bekerja. Selanjutnya ajak anak memahami bahwa penting untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan sehingga dia bisa mengontrol diri ketika ingin sesuatu dan lebih memilih untuk menyimpan uangnya. Tentunya dalam berdiskusi menggunakan bahasa yang sesuai dengan usianya sehingga mereka paham apa yang kita maksudkan

2. Mengajari anak menabung

Selain berdiskusi tentang keuangan bisa juga langsung praktek menghemat uang dengan cara mengajari menabung. Langkah awal menabung bisa membelikan anak celengan ayam untuk disimpan di rumah. Selanjutnya bisa membuatkan tabungan khusus di bank untuk anak sehingga ia lebih semangat untuk menabung. Penting juga menjelaskan kepada anak bagaimana menggunakan uang tabungan dengan benar

Tunjukkan pekerjaan yang bisa menghasilkan uang

Jika orang tua memiliki usaha sendiri, tidak ada salahnya melibatkan anak dalam proses kegiatan usahanya misalkan saja anak membantu membungkus. Jika Anda seorang karyawan bisa menunjukkan jika bekerja di perusahaan dan sebagai gantinya akan mendapatkan penghasilan

Bermain game

Saat ini game online bisa menjadi sarana edukatif yang menyenangkan bagi anak karena kebanyakan anak menyukainya. Caranya bisa memilih game yang mengajarkan bagaimana mengelola keuangan. Dari bermain game, setidaknya anak punya gambaran bagaimana proses bekerja sehingga kemudian mendapatkan uang Selain itu ia akan belajar bagaimana cara mengelola keuangan serta belajar nilai daripada uang itu sendiri. Yang jadi catatan ketika bermain game anak ada beberapa hal antara lain :

  • Saat bermain game anak harus didampingi orangtua
  • Game tersebut tidak mengandung kekerasan serta pornoaksi
  • Ada batasan waktu bermain game

Saya bersyukur menemukan website morgage calculator saat mengajarkan literasi keuangan beragam game yang cocok dimainkan untuk pengenalan tentang uang. Saat saya tunjukkan kepada anak saya website tentang uang dia memilih game Cash back dan Grocery Casier

Cash Back

Sama dengan arti cashback yaitu kembalian, game ini tentang menghitung kembalian uang. Jadi dalam permainan ini pemain seolah- olah jadi kasir. Ketika ada pembeli barang dengan harga tertentu, maka kita harus mengembalikan sisanya.

cashback game

Di sini ada beberapa pecahan uang yang bisa dijadikan pilihan sebagai uang pengembalian. Dari mulai $1, $5, $10 hingga $100. Ada juga $0,01, $0,05, $0,25. Cara mainnya misalkan ada yang membeli raket dengan harga $6 sedangkan uangnya $10 maka harus memberikan kembalian $4 dengan cara mengklik $1 sebanyak 4 kali.

Bagi anak saya game ini mengajarkan ketelitian saat menghitung. Selain itu juga mengenalkan nilai mata uang beserta pecahannya.

Grocery Cashier

Game yang kedua yang dipilih anak saya yaitu permainan menjadi kasir di sebuah toko kebutuhan sehari- hari. Untuk cara mainnya sendiri hampir sama dengan permainan Cashback. Namun dari segi kesulitan game Grocery Cashier ini lebih sulit. Tidak hanya anak belajar nilai uang, tapi juga operasional sederhana penambahan dan pengurangan serta melatih tingkat ketelitian.

grocery cashier game

Ketika bermain ini, pemain game seolah menjadi seorang kasier. Selanjutnya ada pembeli dengan beberapa barang yang berbeda harganya. Tugas kasier mentotal harga semua barang kemudian mengembalikan angsul pembeli. Saat pemberian kembalian pada pembeli ini dibutuhkan ketelitian. Misalkan jika pembeli total belanjaannya $8 sedangkan uangnya $10 dolar, maka nilai uang yang diberikan yaitu $1 sebanyak 2 kali.

Kesimpulan

Mengajari anak literasi keuangan memang perlu kesabaran. Terlebih saat memberikan pemahaman tentang nilai mata uang serta cara memanfaatkan uang dengan bijak. Saat ini untuk mengajarkan literasi keuangan bisa dengan berbagai cara termasuk dengan mengajak anak bermain permainan uang yang tentu saja dengan pendampingan orang tua.

1 thought on “Tips Mengajarkan Literasi Keuangan Sejak Dini”

  1. Perlu banget sih ngajarin mereka sedari kecil, Krn itu akan membentuk kebiasaannya dalam mengatur uang di saat udh dewasa. Aku sendiri ikutin cara papa mba. Dulu zaman SD, papa itu ngasih kami uang bulanan. Ga mau harian kayak ortu yg lain. Krn tujuan papa dia mau ngebiasain kami utk disiplin soal uang. Jadi selain dikasih uang bulanan, papa minta laporannya setiap akhir bulan. Kemana aja itu duit, beli apa aja, dan sisanya balance atau ga dengan yg tersisa. Kalo uang fisiknya sama dengan sisa di laporan, berarti aman, uangnya sesuai dengan pengeluaran dan pemasukan . Tapi kalo ga balance , alias ada selisih, berarti ada yg salah saat dicatet

    Dan Krn sejak kecil kami dilatih begitu, sampe skr pun aku terbiasa itk mencatat pengeluaran dan pemasukan ku.

    Nah anak2ku aku ajarin yg sama. Mereka sejak 1 SD aku KSH bulanan uang sakunya. Itu harus cukup dan ada laporan. Kalo ada yg lebih, aku masukin ke tabungan emas digital pegadaian yg atas nama mereka. Dan si adek kliatan banget suka nabung dibanding kakanya. Krn tabungan emasnya aja, lebih banyak dia skr ini . Krn banyak sisa dari uang sakunya tadi. Kenapa aku pilihan tab emas digital, Krn aku juga ngajarin inflasi ke mereka. Tentunya dijelaskan dengan bahasa yg mereka paham. Dari situ mereka semangat nabung emas. Drpd Rp yg nilainya bisa tergerus semakin lama Krn efek inflasi.

    Intinya ngajarin anak soal financial, hrs sabar memang. Krn ada yg susah paham, tapi ada yg cepet. Apalagi kalo disuruh bikin laporan . Cuma semakin cepet mereka terbiasa, semakin disiplin saat dewasanya

    Reply

Leave a Comment