Resensi Novel Hati Suhita : Tentang Cinta Segitiga

Home » Resensi Novel Hati Suhita : Tentang Cinta Segitiga

Hati Suhita merupakan novel yang berlatar belakang pondok pesantren. Dengan bumbu cinta segitiga antar Gus Biru, Alina Suhita dan Dewi Rengganis membuat novel ini menghadirkan konflik batin pada seluruh tokohnya

Awal Tertarik dengan Novel Hati Suhita

Beberapa bulan lalu, grup WA-ku ramai dengan obrolan tentang cerita bersambung di beranda media sosial. Awalnya saya kurang tertarik, paling kisah cinta yang diawali kesedihan kemudian happy ending pada diakhir. Sebuah alur yang mudah ditebak.

Namun karena virus semakin menyebar tak hanya di Grup WA-ku saja, beberapa friendlist media sosial turut menmbagikan juga. Mau gak mau jiwa kepo sayapun mencari tahu. Berawal membaca share teman dari Khilma Anis, sang penulis. Sayapun menikmati membaca hati suhita episode 1. Ternyata berlanjut hingga episode 16 novel Hati Suhita mampu membuat penasaran pembacanya, termasuk saya.

Dari tulisan beberapa episode yang di share di media social dengan antusias luar biasa. Permintaan masyarakat untuk melanjutkan novel tersebut banyak sekali. Tentunya penulis tidak membiarkan begitu saja. Tulisan yang awalnya dibagikan per episode di timeline facebook itu kemudian naik cetak menjadi buku yang berjudul Hati Suhita.

Terbukti dari beberapa kali pre order di akun resmi penjualannya cepat sekali ludes. Bahkan awal terbit harus bersabar untuk bisa mendapatkan novelnya. Untung saja, teman saya karena suka sekali dengan novel tersebut segera memesannya. Tentunya saja, saya kecipratan hoki bisa membaca lengkap tanpa membeli, hehe.

Penokohan dalam Hati Suhita

Alina Suhita 

Tokoh utama pada novel ini yaitu Alina Suhita merupakan wanita Jawa yang kalem, cerdas dan taat. Alina Suhita merupakan cerminan dari seorang Ning (panggilan bagi putri Kyai Jawa ). Sejak kecil Alina Suhita yang merupakan putri Kyai juga sudah dijodohkan dengan anak kyai daripesantren lain.

Justru inilah yang menjadi konflik bagi Suhita. Terutama menghadapi suaminya yang tidak mencintainya. Bahkan sejak awal kenal dengan Suhita yang kala itu masih MTs, calon suaminya lebih banyak cuek terhadap Alina Suhita.

Setelah menikahpun dalam usia pernikahan 7 bulan, suaminya belum melaksanakan tugas sebagai suami istri yang sah. Apalagi mengetahui sang suami masih memiliki hati kepada wanita lain, teman suaminya di pergerakan. Namun, kedekatannya dengan sang mertua serta diam-diam Suhita juga mencintai Gus Biru menjadi alasannya untuk bertahan.

Abu Rayyan Albirruni 

Merupakan nama lengkap dari Gus Birru. Dia merupakan putra satu-satunya dari Kyai Hannan yang merupakan pengasuh pondok pesantren dengan ribuan santri. Gambaran sosok Gus Birru merupakan seorang yang ganteng, tinggi, tegap dan cerdas.

Sebagai tipe “pencari mangsa” Gus Biru tidak menyetujui perjodohan. Apalagi dalam setiap orasinya Gus Biru selalu menyuarakan kebebasan. Sikap Gus Biru yang lebih tertarik pada pergerakan dari pada mengembangkan pondok pesantrennya memaksa orang tuanya mencari menantu yang siap dengan amanahi tugas besar itu yaitu Alina Suhita.

Ratna Rengganis 

Ratna Rengganis merupakan seorang wanita modern yang cantik, cerdas dan supel. Sebagai seorang aktivitis dan penulis, Ratna Rengganis kerap juga melakukan pendampingan di LSM. Karier kepenulisannya kian sukses ketika mendapatkan support dari Gus Biru.

Gus Biru merupakan rekan diskusi apa saja dengan Ratna Rengganis. Dari situlah bunga cintapun tumbuh di antara mereka. Namun cinta mereka nyatanya tidak mendapatkan restu. Sebagai orang yang bukan kalangan pondokan, Rengganis menyadari dirinya.

Bagaimanapun sejak kecil Gus Biru telah mendapatkan jodoh dari orang tuanya. Sehingga Rengganis merelakan Gus Birru menikah dengan orang lain. Keberadaan Ratna Rengganis dengan Gus Biru yang satu organisasi membuat perasaannya kian terluka.

baca juga : Pendidikan karakter anak melalui cerita Naila dan Nafa

Resensi Buku Hati Suhita

Identitas Buku

  • Judul : Hati Suhita
  • Penulis : Khilma Anis
  • Editor : Akhiriyati Sundari
  • Penyunting : Asfi Diyah
  • Penerbit : Telaga Aksara Rt Mazaya Media
  • Terbit : Maret 2019
  • Tebal : 406 halaman
  • Genre : Fiksi, Romance religi
  • ISBN : 978-0602-51017-4-8

Secara garis besar untuk resensi buku ini, saya  menikmati novel Hati Suhita. Selain menyuguhkan cerita cinta segitiga juga banyak memberikan pengetahuan tentang budaya di pondok pesantren. Begitupun dengan kehidupan tokoh sangat lekat dengan budaya Jawa.

Bagi yang bukan berasal dari Jawa, membaca Hati Suhita bisa memperkaya khazanah pengatahuan. Apalagi para tokohnya sering menghubungkan nilai serta filosofi pewayangan dalam konflik batih yang sedang menderanya.

Untuk penokohannya semua yang ada di Hati Suhita ini cenderung protaganis. Rengganis misalnya, meskipun menjadi orang ketiga dalam kehidupan Suhita dan Gus Biru namun sikapnya pun tetap manis. Cuma hanya berbeda dengan Suhita masalah status sosial dan bukan dari kalangan pondokan. Justru penokohan seperti ini banyak yang mengkritisi novel ini menjadi monoton.

Cover  Buku Hati Suhita

Saat melihat cover novel ini, bisa menyimpulkan tentang keluasan hati Suhita dalam perjalanan hidupnya. Gambar yang kesannya sederhana namun memiliki makna yang dalam. Sama halnya dengan cerita dalam perjalanan Alina Suhita

Tentang Khilma Anis

Saya baru mengenal Khilma Anis saat membaca Hati Suhita. Ternyata Ning satu ini sudah bukan orang baru dalam dunia kepenulisan. Ning yang juga pengasuh PP An-Nur Jember ini juga menulis buku lain yaitu Wigati dan Jadilah Purnamaku Ning.

Latar belakang sebagai pengasuh pondok pesantren terbawa sedikit banyak dalam novelnya. Juga kesukaannya tentang budaya Jawa teruata keris dan wayang. Khilma Anis juga merupaakan alumnus PP As-Sa’idiyah Bahrul Ulum Tambakberas dan PP Ali Maksum Krapyak

Kesimpulan

Novel Hati Suhita yang lahir di kalangan pesantren memang menarik banyak pihak. Dengan kemampuan menulis jurnalistik dan perpaduan sastra membuatnya ringan jadi bahan bacaan. Apalagi banyak filosofi serta kutipan yang bisa jadi pelajaran. Terima kasih Ning Khilma telah menghadirkan bacaan yang bergizi.

Leave a Comment