Buya HAMKA Dari Sastrawan Sampai Ulama

Home » Buya HAMKA Dari Sastrawan Sampai Ulama

aniskhoir.com. Pertama mengenal karya Buya HAMKA ketika saya duduk di bangku SMP. Buku Di Bawah Lindungan Ka’bah adalah yang pertama saya nikmati dan menjadikan ketagihan untuk membaca karya lainnya. Ketika membaca Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck sampai menangis dibuatnya. Bagi saya itu luar biasa. Sebagai orang yang tak mudah hanyut dalam suasana dan itulah kali pertama  saya menangis karena membaca. Sejak saat itu Buya HAMKA seolah menempati deretan penulis yang saya sukai. Buya HAMKA dalam karyanya menghadirkan banyak sisi yang bisa dipelajari. Latar tentang Ranah Minang menjadikan pembacanya mengetahui adat istiadat yang berlaku di sana. Bahasanya yang mudah dipahami tak menjadikan saya kesulitan untuk menikmati sastra berbentuk roman. Pun nilai yang disematkan juga tak menggurui tapi patut untuk dipanuti.

 Baca juga : Joyojuwoto, penulis produktif dari Tuban

Buya Hamka yang lahir di Sungai Batang, Tanjung Raya Agam Sumatera Barat memiliki nama asli Haji Abdul Malik Karim Amrullah dan disingkat HAMKA dan sekaligus menjadi nama pena beliau. Ayah buya HAMKA sendiri merupakan seorang tokoh penting di Ranah Minang. Untuk memperdalam ilmunya Buya HAMKA muda berkelana sampai ke tanah Jawa.  Selain itu Buya HAMKA termasuk pembelajar otodidak berbagai disiplin ilmu seperti pengetahuan seperti filsafat, sejarah, sosiologi, politik dan sastra. Setidaknya ada 4 syarat yang harus dimiliki seseorang untuk menjadi penulis menurut Buya HAMKA 1.    Memiliki daya khayal atau imajinasi 2.    Memiliki kekuatan ingatan 3.    Memiliki kekuatan hapalan 4.    Memiliki kesanggupan mencurahkan tiga hal tersebut menjadi sebuah tulisan Untuk karier kepenulisan Buya HAMKA sebenarnya di mulai dengan menjadi wartawan. Kemudian beliau menjadi editor beberapa majalah. Setelah mendapatkan kesempatan lawatan ke beberapa negara di timur tengah ketika pulang beliau menuliskan beberapa roman yang membuat beliau terkenal menjadi sastrawan yaitu Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk dll. Roman, novel atau cerpen itulah yang digunakan Buya HAMKA sebagai media komunikasinya untuk pesan moral yang disampaikan. Buya HAMKA memang tokoh yang dikenal tidak pernah mengeluarkan kata kasar  menyampaikan pendapatnya Di samping menjadi sastrawan beliau juga aktif dalam politik dengan menjadi tokoh Masyumi. Buya HAMKA yang dikenal teguh pendirian sering mengkritisi kebijakan pemerintah yang dekat dengan PKI melalui tulisannya. Sehingga tak mengherankan Buya HAMKA pada jaman Orde Lama pernah dipenjara. Setelah berdirinya orde baru dan peristiwa 1965 Buya HAMKA meninggalkan dunia politik, sastra, dan lainnya. Beliau secara total menjadi Ulama dengan banyak mengisi kajian sholat subuh di masjid Al-Azhar. Ketika menjadi ulama Buya HAMKA diamanahi menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang pertama. Selain itu Buya Hamka merupakan salah satu tokoh Muhammadiyah. Bahkan sebagai jasanya nama Buya Hamka dijadikan salah satu nama Universitas milih Muhammadiyah. Karya ilmiah dalam bidang agama yang fonumental dari Buya HAMKA adalah Tafsir Al-Azhar. Pada 24 Juli 1981 pada usia 73 tahun di Jakarta Buya HAMKA seorang sastrawan sekaligus Ulama besar Indonesia tutup usia. Ibarat Gajah mati meninggalkan gadingnya, meskipun telah wafat karya Buya HAMKA sampai sekarang tetap abadi dan bisa dinikmati generasi hingga kini. Sebagai penghargaan atas jasanya, Buya HAMKA mendapatkan gelar Datuk Indono dan Pangeran Wiroguno dari pemerintah Indonesia, Doctor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar Kairo dan masih banyak penghargaan lain diperolehnya.

3 thoughts on “Buya HAMKA Dari Sastrawan Sampai Ulama”

  1. Meski usia senja, tapi semangat berkaryanya masih membara, ya? Semoga Buya Hamka senantiasa diberi kesehatan. 😀 Aamiin

    Reply

Leave a Comment