Bijak Dalam Berkomentar dan Menyebarkan Pendapat

Home » Bijak Dalam Berkomentar dan Menyebarkan Pendapat

Aniskhoir.com. Beberapa hari lalu Wan minta beli susu UHT di toko dekat rumah. Bisa dikatakan hampir setiap hari saya beli di toko itu. Untuk hari itu Wan agak rewel. Susu yang awalnya diminta pun kemudian tidak mau. Beberapa snack yang saya tawarkan juga ditolaknya. Ternyata dia melihat mainan bis yang Wan nyebutnya sebagai tayo. Langsung dia meminta tapi bukan hanya satu tapi empat sekaligus. Saya pun memberi pengertian untuk hari ini beli satu saja dan besok bisa beli lagi. Perdebatan kecil antara saya dan Wan pun mulai terjadi. Tiba- tiba ada pembeli lain datang. Tanpa berkata apa-apa sebelumnya langsung saja bilang “Ndang dibelikan aja lho Mbak, wong murah lima ribuan saja kok”. Saya langsung terkejut dengan pernyataan orang tersebut. Dari nada bicaranya terlihat kesan kalau saya seolah melarang anak saya beli mainan. Padahal yang terjadi bukan demikian. Saya hanya memberi pengertian untuk tidak membeli semuanya. Pertimbangan saya lebih pada pembiasaan pada Wan untuk tidak memiliki segala yang dia inginkan. Selain itu Wan pada akhirnya juga mau dibelikan satu bis mainan tanpa menangis dan kemudian menerimanya dengan riang gembira. Terbukti sepanjang jalan dengan bahasa khasnya dia bercerita banyak tentang bis yang dibelinya.

baca juga yuk : Ketika angka lebih berhaga dari etika

Dari kasus saya diatas saya jadi belajar jika kadang kita terlalu mudah menilai seseorang. Tanpa tahu permasalahannya tiba-tiba men-judge begitu saya. Bahkan kadang tanpa sadar omongan itu menyakitkan oang lain. Apalagi jika itu terjadi di dunia maya. Seolah berita apapun dengan mudah menjadi viral. Jika merupakan sebuah kebaikan menjadi viral tentu bukan masalah tapi jika keburukan atau bahkan fitnah bukan saja mematikan karakter seseorang mungkin bisa juga jiwanya. Dan banyak berita yang telah membuktikannya. Terus harus bagaimana kita bersikap ketika melihat sesuatu?. Ada baiknya sebelum bertindak lebih jauh dalam artian berkomentar atau menyebarkan berita atau share kepada orang lain, yuk kroscek atau tabayun dulu. Cari tahu dahulu duduk perkaranya, apa penyebabnya dan kemudian baru berkomentar. Tak memerlukan waktu banyak kok kalau sekedar mencari kebenaran dari pada menyesal setelah menyakiti oang lain dengan perkataan yang tak pantas atau menyebarkan kebohongan. Banyaknya berita hoax yang tersebar bisa juga berasal dari sikap yang tak mau tahu. Ketika melihat sesuau yang tak sesuai dengan hatinya langsung share tanpa mencari kebenaran. Padahal apapun yang dilakukan sedikit banyak memberikan sumbangan terhadap penyebaran hoax yang semakin merajalela karena keengganan kroscek terlebih dahulu. Saya salut dengan salah satu teman grup WA saya. Jadi setiap ada berita yang bersifat profokasi atau foto-foto yang menjadi pusat perhatian, maka dengan “bersusah payah” akan mencari kebenarannya. Sehingga jika ditanya tentang kebenarannya dengan mudah ia akan memberikan data- data yang valid. Sehingga bisa dibilang teman kami ini seolah jadi rujukan setiap ada berita apapun yang sedang viral. Secara tak langsung seolah- olah apa yang dilakukan menjadi branding dirinya bahwa dia adalah orang yang jujur dan benar dalam perkataan. Satu lagi yang jadi catatan disini, kadang kita tak perlu mendengarkan perkataan orang lain yang tak tahu apa sebenarnya duduk masalahnya. Apa lagi dalam pendidikan anak. Karena bagaimanapun kita punya standar pendidikan anak yang berbeda dengan orang lain. Seperti yang saya jelaskan diatas bahwa tak perlu malu dikatakan pelit demi mendidik anak dalam hal kepemilikkan. Jadi Yuk semakin bijak dalam mendidik anak juga dalam berkomentar serta menyebarkan (share) pendapat yang kita punya.

2 thoughts on “Bijak Dalam Berkomentar dan Menyebarkan Pendapat”

  1. Suka sedih juga kalau ada orang tiba-tiba komentar tanpa ngerti duduk perkaranya. Dan jaman sekarang banyak banget orang kayak gitu Entah karena hidup yang makin keras atau memang karakter orangnya yang begitu

    Reply

Leave a Comment