Jangan Heran, Inilah Empat “Mitos” Aneh yang ada di Tuban

Home » Jangan Heran, Inilah Empat “Mitos” Aneh yang ada di Tuban

Ada pepatah mengatakan bahwa “dimana kita berdiri, disitulah langit dijunjung”. Dimana kita berada, ada adat istiadat, budaya bahkan mitos yang dipercaya, diyakini dan dilaksanakan oleh penduduknya. Indonesia Negara yang kaya akan budaya dan setiap budaya maupun daerah punya ciri khas adat dan juga mitos yang masih dipertahankan. Begitu pula dengan di Tuban. Kabupaten kecil yang secara resmi dua tahun ini saya tinggali menyimpan berribu mitos yang asih dipegang erat penduduknya. Terutama di desa saya. Walaupun menurut saya mitos itu sesuatu yang aneh, namun kenyataannya masih banyak yang mempercayainya.

Ketika pertam mendengar mitos- mitos yang saya tuliskan dibawah ini sangat aneh bagi saya yang notabene di kota kelahiran (Kediri) sudah tidak banyak mitos yang dipercaya. Namun berbeda sekali dengan di Tuban. Berikut ini empat mitos yang dipercaya masyarakat di desa saya tinggal :

 

  • Proses Pembuatan Tape. 

Tahukan tape?, panganan yang terbuat dari ketela pohon atau bisa juga beras ketan yang difermentasi dengan ragi. Ada kepercayaan atau mitos di desa saya bahwa ketika membuat tape, si “koki” harus berkumur, tanpa dibuang airnya sampai selesai mengolah tape sehingga siap untuk difermentasi. Alasannya agar tape tersebut hasilnya akan manis. Pertama tahu tentang mitos tape ini sangatlah aneh. Sepanjang pengetahuan saya, proses pembuatan tape sangatlah sederhana, ketela pohon atau beras ketan dikukus, setelah dingin ditaburi ragi, kemudian ditutup rapat agar fermentasi berjalan sempurna. Yang menjadi syarat utama agar tape manis adalah kebersihan selama proses pembuatan. Terutama jangan sampai bahan maupun alat pembuatan tape terkena minyak dan garam, karena kedua bahan tersebut membuat tape menjadi masam. Jadi tak ada ceritanya harus berkumur air. Dan satu lagi, kata orang- orang di desa saya, si pembuat tape harus dalam keadaan suci ketika membuatnya. Apabila pembuatnya wanita, dan sedang datang tamu bulanan maka berakibat tape akan berwarna agak kemerahan.

Bisa dikatakan, saya yang melakukan sesuatu berdasarkan logika ilmiah ingin membuktikan mitos tersebut. Mengadakan pembuktian secara terbalik, dengan membuat tape tak sesuai dengan syarat dan ketentuan berdasarkan mitos yang berlaku. Yang saya pegang dalam pembuatan tape adalah tentang bagaimana berusaha menjaga kebersihan selama proses sampai tape siap dinikmati. Dan hasilnya saya bisa membuat tape dengan rasa yang manis.

Bagaimana menyikapi mitos harus berkumur selama proses pembuatan?, Secara langsung tak ada kaitan sama sekali antara proses pembuatan tape dengan berkumur. Namun secara logika, mungkin sebagai wujud penyampaian pesan bahwa dalam proses pembuatan tape harus menjaga kebersihan termasuk diri si pembuat.

Baca juga tentang Mitos : Desa Mliwang : Karma Menghadap Ke Utara

  • Dilarang mandi ketika mengadakan perhelatan. 

Tak hanya di desa saya sekarang di Tuban, di beberapa daerah saya juga menemui keyakinan yang hampir sama. Intinya adalah si tuan rumah atau pemilik acara bisa khitanan, pernikahan atau yang lainnya yang membutuhkan bantuan dari sanak saudara dan biasanya serta mengundang banyak orang untuk menghadirinya. Jika pantangan itu dilanggar maka akan turun hujan dalam rentang acara. Apalagi jika si pemilik acara sampai keramas maka hujannya akan semakin deras.

Menurut saya tanpa memperhatikan tentang mitos, seharusnya pemilik acara harus bersih diri atau mandi. Bagaimanapun ketika menerima tamu undangan bau harus harum, serta fresh tentu dibutuhkan. Jika mengambil pesan dari mitos tersebut, pesan yang ingin disampaikan adalah kaum wanita biasanya sangat lama dalam mandi dan lainnya, sehingga agar tamu tak menunggu pesan itu disampaikan dan menjadi mitos yang diyakini bahkan dilaksanakan.

  • Dilarang menjahit ketika ada orang meninggal sampai si mayat dimakamkan. 

Berawal dari pengalaman saudara saya yang kebetulan seorang penjahit, berhenti sementara dengan alasan ada orang meninggal. Dan si meninggal pun letaknya cukup jauh dari rumah hanya masih satu desa. Ketika saya Tanya kenapa tidak menjahit alasannya karena ada orang meninggal dan pada saat itulah waktunya menjahit kain kafan si meninggal. Tentang mitos ini secara korelasi tak ada hubungan antara menjahit dengan orang meninggal. Namun sebagai orang yang hidup bertetangga, pesan yang ingin disampaikan adalah kita diminta meninggalkan segala bentuk pekerjan termasuk hal kecil seperti menjahit yang bisa ditunda untuk membantu pemakaman hingga selesai.

  

  • Mengulek bumbu secara bersama- sama. 

Dulu waktu saya hamil, ibu mertua saya selalu mewanti-wanti agar mengulek bumbu secara bersama- sama dengan alasan agar dalam proses persalinan menjadi lancar. Pada dasarnya tekstur suatu bumbu berbeda- beda. Dan sudah menjadi kebiasaan saya untuk menghaluskan bumbu sesuai tingkat kemudahannya. Tentu jika menuruti ibu mertua saya bukanlah hal yang mudah. Diperlukan tenaga ekstra sampai bumbu itu halus. Sehingga dapat diartikan mitos tersebut sebagai pesan tersirat bentuk senam hamil yang bertujuan memperlancar proses persalinan terutama ketika mengejan.

Percaya tak percaya tentang mitos tergantung pada pihak pribadi masing- masing. Culture budaya yang dipegang serta pola pengasuhan mempengaruhi terhadap kepercayaan terhadap mitos. Dulu orang tua dalam melarang atau menganjurkan sesuatu kepada anak cucunya tak dapat menjelaskan secara ilmiah. Hanya tak boleh begini dan harus begini tanpa sesuatu alasan yang rasional. Kemudian nasehat itu menyebar dan kemudian menjadi sesuatu kepercayaan bahkan masuk menjadi sugesti. Jika tak melaksanakan seperti mitos yang beredar akan memjadikan suatu bala’ yang menimpanya. Sehingga mitos pun kemudian berkembang subur dan menjadi kepercayaan turun temurun. Sebagai orang yang berpikir rasional dan beragama islam, apakah mitos itu harus dipercayai atau tidak, saya mengambil sisi lain yang dapat diambil. Misalnya tentang kebaikan yang ada di dalamnya sehingga ketika harus melaksanakannya bukan percaya pada mitos tersebut namun lebih pada penghormatan terhadap lingkungan.

2 thoughts on “Jangan Heran, Inilah Empat “Mitos” Aneh yang ada di Tuban”

  1. Iya. Tiap mitos pasti ada penyebabnya. Tapi kadang mitos itu sudah turun-temurun. Bisa jadi kondisi jaman dulu waktu cerita tadi muncul sudah berbeda. Dulu waktu kuliah pernah dapat cerita tentang ini

    Reply

Leave a Comment