Resensi dan Review Biografi Idrus A. Paturusi : Dokter medan Lara

Home » Resensi dan Review Biografi Idrus A. Paturusi : Dokter medan Lara

Resensi dan Review Buku Biografi Idrus A. Paturusi : Dokter medan Lara

Pertama mendapatkan buku biografi Idrus Paturusi ini, saya langsung tertarik. Meskipun jujur saya belum pernah mendengarkan nama beliau. Tetapi dari kata pengantar serta testimoni berasal dari para tokoh penting di negeri ini. Ditambah pengemasan buku yang eksklusive baik segi ukuran serta kertas yang digunakan. Saya meyakini, ini bukan buku biografi biasa. Ada banyak pengalaman dan pembelajaran berharga yang terkandung didalamnya.

“Lakukan segala kebaikan sekecil apapun karena kamu tidak tahu kebaikan mana yang menghantarkanmu menuju ke syurga” (Idrus A. Paturusi)

Resensi buku Idrus Paturusi : Dokter Medan Lara
Identitas buku :
Judul.    : Idrus A. Paturusi : Dokter Di Medan lara
Penulis  : Sili Suli Hurri Hasan
Penerbit  : Arti Bumi Intaran
Tahun terbit :2020
Jumlah halaman : 354
Ukuran : 22 x 30 cm

PERJALANAN HIDUP IDRUS PATURUSI

Prof Idrus Pada Masa Kecil


Prof. Dr. dr. Idrus Andi Paturusi, SpB, SpOT merupakan pria kelahiran Makasar, 70 tahun lalu. Lahir dari orang tua yang berlatar belakang bangsawan dan militer membuat Prof Idrus kecil mendapatkan kesempatan yang baik dalam pendidikan.

Sang ayah merupakan seorang perwira pada jamannya. Tidak mengherankan mengikuti ayahnya bertugas Prof. Idrus kecil harus sering berganti sekolah. Bahkan untuk sekolah SD selama 6 tahun dihabiskan di 6 sekolah yang berbeda.

Masa Remaja Prof Idrus Paturusi


Masa remaja Prof. Idrus tidak berbeda dengan remaja lainnya, terutama melakukan hal heroik. Sejak kecil Prof. Idrus dikenal pemberani. Keberanian membawanya tidak jarang ia berkelahi dengan siapa saja. Bahkan semasa SMK ia terkenal sebagai jenggo yaitu ahli bertarung.


Meskipun ditengah “kenakalan” masa remaja, Prof. Idrus tetap rajin belajar. Terutama menjelang akhir masa SMK ia lebih serius belajar. Keinginannya untuk di melanjutkan di ITB dan menjadi insinyur seperti pamannya.

Sedangkan sang ibu menginginkan dirinya untuk menjadi dokter. Mungkin mustajabahnya doa ibu juga takdir mengatakan Prof. Idrus gagal masuk di ITB. Tapi ia diterima di Fakultas Kedokteran di Universitas Hasanuddin. Dan disitulah nantinya Prof. Idrus mengabdikan dirinya sebagai akademisi sekaligus dokter di medan lara.


Awal masuk UNHAS jiwa jingo-nya masih terbawa. Terlihat dari keberaniannya ketika perpeloncoan di fakultasnya. Namun justru dari sanalah rasa mencintai almamaternya hadir. Apalagi ia kemudian bertemu dengan teman semasa SMK yang membuatnya semakin semangat belajar.

Riwayat akademik Prof Idrus

Di bidang akademis, perjalanan Prof. Idrus terbilang lancar. Ia bisa menyelesaikan pendidikan dokternya tepat 8 tahun.

Keberuntungannya lagi, Prof Idrus bisa menjadi dokter resident tanpa harus melakukan pengabdian menjadi dokter impress seperti ketentuan pemerintah. Di tahun itu, pertama kalinya UNHAS membuka jurusan spesial bedah.

Idrus dan enam temannya merupakan mahasiswa pertama yang dikenal dengan seven up. Lulus dari spesial bedah di UNHAS Idrus melanjutkan pendidikan S3 di Spesial bedah Ortopedi di Universitas Indonesia serta mengikut berbagai post Graduate di berbagai Negara.

Idrus A. Paturusi Terjun ke Medan Bencana dan Konflik

Ketika Prof Idrus tidak mengabdi di daerah impress seperti dokter resident lainnya, bukan berarti terbebas dari pengabdian ke daerah terpencil. Justru Idris aktif ikut dalam setiap penanganan bencana yang terjadi di negeri ini.

Tahun 1992 di wilayah Indonesia bagian timur gempa tektonik menghantam pulau Flores. Lebih dari 2000 nyawa menjadi korbannya. Prof Idrus membentuk Brigade Siaga Bencana Indonesia Timur (BSBIT) yang melibatkan dokter-dokter UNHAS. Tim tersebut langsung turun ke titik bencana bahkan ke daerah terisolir di Ende untuk bantuan perawatan medis pada para korban

Tidak hanya berhenti di Ende saja, aktivitas kemanusian Prof Idrus berlanjut ke daerah yang membutuhkan tenaganya.Tidak hanya ke daerah bencana, tapi juga daerah konflik berdarah sebut saja Ambon.

Prof Idrus menjadi Relawan di daerah Konflik

Suasana mencekam harus dihadapi Prof Idrus dan Tim dalam upaya memberikan pertolongan medis. Idrus juga terjun langsung ke pengungsi timor timur, Ke Tidore bahkan harus ditahan oleh tentara layaknya teroris dan memberikan pertolongan dibawah berondongan peluru.

Tidak hanya di wilayah Indonesia saja Prof Idrus bersama timnya juga melakukan misi kemanusian hingga ke luar negeri salah satunya ke perbatasan Afghanistan dan Pakistan.

Mengabdi Pada Almamaternya

 
Jabatan baik structural maupun profesinya Prof Idrus terbilang mulus. Setelah menjadi Pembantu Rektor 3 kemudian Prof Idrus terpilh menjadi dekan di Fakultas Kedokteran UNHAS. Berbagai perbaikan mulai dilakukan Idrus Paturusi salah satunya mengganti kurikulum fakultas kedokteran dari 6 tahun menjadi 5 tahun.

Perubahan yang berawal di UNHAS itu kemudian diadopsi secara nasional oleh fakultas kedokteran lainnya. Puncak karier Idrus Paturussi yaitu menjadi rector UNHAS periode 2006- 2014


Review Buku Idrus Paturusi : Dokter di Medan Lara


Bukan suatu kebetulan jika buku tentang nakes (tenaga kesehatan) ini ditertibkan bertepatan dengan wabah COVID-19 yang melanda dunia. Hampir seluruh dunia menyatakan perang pada virus yang mematikan tersebut.

Nakes, salah satunya dokter menjadi garda terdepan dalam perjuangan melawan virus tersebut. Apalagi sang tokoh, Prof Idrus juga sempat positif COVID-19 dan Alhmadulillah sekarang sehat seperti sedia kala.

Saya yakin buku ini jauh disusun sebelum pandemi COVID-19 ada. Ada proses panjang sampai terselesaikannya. Buku biografi ini bukan ditulis dari satu sisi saja. Bukan hanya bersumber dari tokoh yang dituliskan kisahnya saja.

Tetapi buku ini merupakan kumpulan pernyataan dari mereka yang terlibat. Merekalah saksi hidup yang tidak hanya memberikan kisahnya tetapi juga foto yang mendukung. Terlebih, mereka banyak yang menjadi besar di universitas ternama juga menjadi tokoh penting di bidangnya di negera yang kita cintai ini.

Setiap membaca bagiannya, saya merenung lama. Bahkan menitikkan air mata. Terutama konflik serta para korban yang tidak berdosa serta dokter yang berhadapan langsung dengan potongan mayat dan kondisi jenazah yang sangat mengenaskan.

Para dokter tersebut menjalankan hanya ingin menolong serta menjalankan sumpah jabatannya. Tapi harus bekerja di bawah ancaman berondongan peluru yang nyawa sendiri menjadi korbannya. Benar memang, kadang harga manusia terlalu murah untuk membayar toleransi yang hilang.


“Harga manusia terlalu murah untuk membayar toleransi yang hilang”

PENULIS BUKU BIOGRAFI IDRUS PATURUSI

Buku ini dibuat dengan spesial. Buku yang bukan untuk diperjual-belikan ini memang dikhususkan untuk persembahan pada sanak saudara serta kolega Prof Idrus. Saya turut bersyukur diberi kesempatan untuk membaca buku dan mereviewnya oleh Sili Suli. Ini untuk kali kedua saya membaca buku Sili Suli yang sebelumnya novel Surya, Mentari dan Rembulan

Meskipun begitu, kedepannya saya berharap buku biografi ini bisa dicetak secara luas. Minimal menjadi pegangan bagi para dokter muda khususnya sehingga bisa menjadi bekal mereka turun ke medan lara. Juga bisa menjadi pembelajaran bagi generasi muda tentang perjuangan serta kepedulian sang guru besar UNHAS.

Leave a Comment