Bersama Bergerak Berdaya Untuk Bumi

Saya selalu teringat kata “Bumi yang kini kita tinggali, bukan hanya milik kita sendiri tetapi untu diwariskan ke anak cucu kita nanti” saat melihat sering terjadi bencana akhir- akhir ini. Bagaimana mau mewariskan pada anak cucu, kalau saat kita tinggali saja sudah semakin rusak. Semua karena tangan kita manusia baik sengaja atau tidak telah merusak bumi.

Saya masih ingat saat SD dulu, Bu Guru mengatakan kalau hutan yang ada di Indonesia menjadi paru- paru dunia. Dalam bayangan saya saat itu sebagai anak SD, sebagai fungsi vital paru- paru bagi tubuh begitu pula fungsi hutan Indonesia bagi dunia. Jika paru- paru tentu kesehatan dunia juga terganggu. Saya merasa bangga kala itu karena Indonesia memberikan andil besar bagi dunia.

Sayangnya kebanggaan tersebut kini beralih menjadi keprihatinan. Degradasi dan defortasi hutan di Indonesia termasuk tercepat di dunia sebesar 2,8 juta hektar pertahun. Kerusakan tersebut karena beberapa faktor.

Kerusakan Hutan Karena Bencana Alam

Letusan gunung berapi

Saat gunung api meleutus akan memutahkan lava, material padat, uap panas hingga debu vulkanik. Aliran lava panas tersebut bisa merusak kehidupan yang dilaluinya termasuk hutan. Hutan akan rusak bahkan terbakar saat dilalui oleh material dari letusan gunung berapi

Banjir bandang

Bagian lereng bawah pegunungan berpotensi terjadi banjir bandang jika penjenuhan air terhadap tanah di wilayah tersebut berlangsung sangat hingga air tidak terserap. Saat terjai banjir bandang mampu menghanyutkan apapun yang dilaluinya termasuk hutan.

Kemarau panjang

Terjadinya musim kemarau lebih panjang dari pada musim hujan bisa menyebabkan kemarau panjang. Kemarau panjang akan menyebabkan kerusakan lingkungan seperti mengeringnya mata air yang berdamak pada kelangsungan pertanian hingga kebakaran hutan.

Kerusakan Hutan Karena Aktivitas Manusia

Illegal logging

Akibat illegal legging ini kerusakan hutan di Indonesia sebesar 59 juta hektar. Hutan menjadi rusak karena pohon dibabat oleh pelaku pembalakan hutan secara liar. Tidak hanya pohon di dalamnya, tetapi juga keanekaragaman hayati juga ikut punah

Pengalihan fungsi hutan.

Pengalihan hutan konservasi menjadi areal pemukiman memang secara ekonomis menguntungkan. Namun dampak kerusakan alam, punahnya hewan dan tumbuhan menjadi kerugian yang tidak ternilai harganya.

Aktivitas perusahaan tambang

Eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam mineral dapat merusak hutan dan tanpa mempertimbangan risiko setelahnya. Pembabatan hutan untuk area pertambangan, pembangunan jalan operasional hingga pabrik pengolahan.

Kebakaran hutan

Untuk membuka lahan non hutan seperti semak belukar untuk perkebunan maaupun pemukiman dengan cara membakarnya. Sayangnya pembakaran tersebut kemudian merembet ke hutan sehingga menyebabkan kebakaran hutan. Selain itu kemarau panjang juga pemicu terjadi kebakaran hutan.

Naiknya emisi Karbon akibat Defortasi dan Degradasi Hutan

Selayaknya paru-paru jika mengalami kerusakan maka tidak berfungsi maksimal. Begitu juga hutan yang Indonesia, terjadinya defortasi dan degradasi hutan berdampak pada emisi karbon. Hutan tidak lagi bisa menyerap emisi karbon yang dihasilkan manusia secara maksimal, tetapi justru melepas karbon yang tersimpan pada pohon dan lahan gambut.
Defortasi dan degradasi hutan diperkirakan melepas emisi karbon 17- 20 persen total emisi gas rumah kaca lebih besar dari emisi yang dihasilkan sektor transportasii global.

Jadi saat fungsi hutan sudah tidak maksimal, maka emisi karbon yang selama ini tersimpa di hutan di lepas ke udara dan berdampak pada kehidupan manusia, antara lain:

  • Terjadinya perubahan iklim yang berakibat anomali cuaca hingga terjadinya cuaca ekstrem
  • Meningkatkan suhu bumi yang berdampak mencairnya es di kutub, meningkatnya permukaan air laut dan terjadinya hujan lebat
  • Munculnya berbagai penyakit baru yang berhubungan dengan virus, bakteri dan parasit
  • Cuaca ekstrem berpengaruh pada meningkatnya kerusakan infrastruktur

Cara Mengurangi Emisi Karbon

Melihat Berbagai dampak dari meningkatnya emisi karbon, tentu kita tidak bisa diam berpangku tangan. Kita bisa berkontribusi mulai dari diri sendiri untuk #BersamaBergerakBerdaya mengurangi emisi karbon antara lain:

Menamam pohon

Cara termudah dan murah untuk mengurangi emisi karbon yaitu dengan menanam pohon. Siapapun dan dimanapun bisa turut serta menanam pohon. Pohon akan menyerap emisi karbon secara alami. Untuk ibu rumah tangga misalnya bisa menanam pohon dalam pot di rumah. Selain mengurangi emisi karbon bisa untuk hiasan atau menjadi tanaman produk seperti sayur dan buah- buahan. Jadi selain bisa mengurangi emisi karbon #UntukmuBumiku  juga bisa menghemat pengeluaran untuk buah atau sayur

cara mengurangi emisi karbon

Efisiens penggunaan energi

Energi seperti listrik masih menggunakan batubara untuk bahan bakar pembangkitnya. Penggunaan bahan bakar fosil menjadi salah satu penyumbang terbesar emisi karbon. Kita bisa berkontribusi menguranginya dengan cara efisiensi penggunaan energi. Caranya yaitu dengan menghemat penggunaan listrik seperti misalnnya mematikan peralatan listrik yang tidak digunakan

Membawa tempat saat belanja

Kita bisa mengurangi emisi karbon dengan mengurangi penggunaan plastik. Sebagai ibu rumah tangga bisa membawa wadah sendiri saat berbelanja. Memang langkah ini kelihatan sederhana. Namun jika dilakukan setengah saja ibu- ibu di Indonesia sudah berapa besar sampah plastik yang berkurang.

Memisahkan sampah

Sampah yang kita hasilkan dalam aktivitas sehari- hari juga menyumbang emisi karbon. Tentu kita harus bertanggung jawab dengan cara berkontribusi mengurangi emisi karbon. Dari rumah sebagai ibu rumah tangga bisa  melakukan dengan memisahkan sampah organik dan anorganik.

Sampah organik bisa dijadikan kompos yang nantinya digunakan untuk memupuk pohon yang kita tanam di rumah. Sedangkan sampah anorganik bisa kita jual di pengepul rongsokan yang selanjutnya akan didaur ulang. Tidak hanya lingkungan menjadi bersih tetapi dengan memisahkan sampah ikut menjaga #UntukmuBumiku

Andai Aku Pemegang Kebijakan

Siapapu pasti punya keinginan berkontribusi untuk mengurangi emisi karbon. Terlebih jika sebaagai pemangku kebijakan tentu akan berdampak luas. Untuk itu, jika suatu hari nanti aku bisa menjadi pemegang kebijakan, maka berbagai langkah akan aku lakukan untuk #BersamaBergerakBerdaya sebagai langkah mengurangi emisi karbon antara lain:

Melakukan transmisi energi

Dengan kondisi emisi karbon yang mengkhawatirkan saat ini, mau tidak mau negara- negara di dunia harus bersama- sama melakukan transmisi energi. Selama melakukan transmisi energi ini bahan bakar fosil hanya digunakan sementara sebelum akhirnya akan digantikan dengan energi bersih. Mengingat pentingnya mengurangi emisi karbon maka sebagai pemegang kebijakan saya ingin mempercepat proses transmisi ini. Jika diperkirakan Indonesia akan net zero emision pada 2060, saya tentu berharap 2040 Indonesia sudah bisa melakukannya

Meningkatkan kualitas dan kuantitas transportasi umum

Saat ini orang lebih memilih menggunakan transportasi pribadi untuk berkegiatan. Alasannya tentu lebih cepat dan nyaman. Padahal semakin meningkatnya penggunaan  transportasi pribadi berarti semakin meningkatnya konsumsi energi fosil yang saat ini masih digunakan sebagian besar kendaraan bermotor di Indonesia.

Dengan memperbaiki fasilitas transportasi umum dan membuat orang tertarik menggunakannya tentu akan mengurangi emisi karbon dalam jumlah besar.

Program one person one tree

Coba bayangkan jika jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 200juta jiwa ini tiap orang memiliki satu pohon saja, sudah berapa banyak emisi karbon yang bisa terserap? Dengan menjadikan program satu pohon satu orang sebagai program nasional maka serentak di Indonesia akan melakukan penghijauan.

Penutup

Melihat fakta dampak emisi karbon yang sudah jelas terpampang nyata di depan mata tentu kita tidak bisa hanya diam saja. Sudah saatnya kita bergandengan tangan untuk menguranginya. Kalau #BersamaBergerakBerdaya versi kalian apa nih? Boleh dong tulis di kolom komentar ya!

 

 

Satu pemikiran pada “Bersama Bergerak Berdaya Untuk Bumi”

  1. Yang paling sederhana, tp ternyata susah untuk konsisten…minimalin sampah plastik mba. Aku tim bawa tas kain ke pasar…tp klo untuk jajan bakso, soto, bawa rantang sendiri…blm sanggup

    Balas

Tinggalkan komentar