Cinta Pertama Yang Tak Sampai

Tentang Cinta pertama, waduh ini tema membuat ingak-ingak masa jadoel. Huhui, ketika masih bau kencur dan memandang cinta adalah sebuah rasa suka kepada lawan jenis, tak perlu menjadi sepasang kekasih karena untuk mengungkapkannya bagai memikul dunia dan seisinya, berat banget brai. Namun dari situ, syukur itu harus tetaplah, karena berarti saya normal, mengalami salah satu fase pubertas, yaitu mulai menyukai lawan jenis meskipun kisah kasih itu tidak harus sampai. Dan, kemudian tetaplah menjadi bintang dilangit, agar cinta kita kan abadi. Hiyaa, stop grak, malah menyanyi “kasih tak sampai”nya Padi.

Kepada siapa cinta pertama itu hadir sungguh suatu misteri. Tidak akan menyangka dan menduga. Bisa dengan orang yang sangat dekat dengan kita. Atau bisa juga cinta yang hadir pada pandangan pertama. Bahkan pada musuh bebuyutan kita yang amat dan sangat kita benci. Eits, yang ini ni kudu ingat kata pepatah, bahwa cinta dan benci itu sangat dan sangat tipis bedanya, setipis kertas HVS 60 gram walaupun saya juga belum menimbang :D. Yang dulunya musuh bebuyutan, eh ujungnya malah jadian. Makanya, jangan membenci sesuatu secara berlebihan, bisa- bisa kena hukum karma dan malah saling jatuh cinta. Kena deh.

Seperti saudara saya, sebut saja Dati namanya. Kisah cintanya begitu menggoda saya untuk menuliskan dan mengikutkan GA. Karena cintanya ada jauh sebelum mereka mengenal dengan benar makna cinta sebenarnya. Bata cinta itu jauh dibangun di saat mereka sekolah dasar. Berawal dari sebuah ambisi perebutan rangking pertama dikelasnya, karena sebut saja cowok tersebut Inal namanya adalah rival paling wahid bagi Dati. Dari situ, teman- teman mereka pun sering mempasangkan mereka berdua. Bukan bahagia bagi Dati, namun ia ingat benar, bagaimana sepulang sekolah dia harus berlarian menyelamatkan diri dari gangguan Inal. Daan bagaimana buku catatannya tiba- tiba hilang dan kembali penuh dengan coretan. Yang paling membuat Dati semakin benci pada Inal adalah bekas permen karet yang diletakkan di bangku Dati sehingga mengenai roknya yang baru. Persis seperti sebuah sinetron.

Namun, setelah lulus SD, SMP, bahkan SMA, mereka hanya bertemu satu tahun sekali. Hanya waktu hari raya, karena kebetulan Inal masih saudara jauh orang tua Dati. Lagi- lagi hanya sebuah diam, dan sikap tak acuh yang sanggup di suguhkan Inal pada Dati. Selain itu, waktu Dati banyak dihabiskan di sekolah asrama.  Sehingga bagi Dati tidak ada cinta lagi, yang ada adalah puing kisah “perjodohan” dari teman SD yang dulu, dan hadirnya teman lelakipun sebatas teman. Tidak lebih.

Dan, waktu itupun datang. Inal mengungkapkan perasaannya pada Dati. Entahlah, Dati juga merasakan hal yang sama. Ternyata rasa benci sepuluh tahun lalu  kini bermetamorfosis pada sebuah rasa kekaguman dan cinta. Karena Inal memilih waktu yang tepat untuk mengungkapkan dan dia telah siap dengan resiko yang di tanggungnya dari sebuah ungkapan. Jika cinta itu diterima, maka sebuah ikatan suci tanpa pacaran akan menjadi pilihan bagi mereka berdua, namun jika tidak diterima pun Inal telah dengan legowo menata hatinya untuk menerima apapun keputusan Dati, karena sejak SD, menggoda Dati adalah sebuah cara anak kecil mengungkapkan cinta pertamanya.

Tidak selama kisah cinta berakhir bahagia. Karena cinta apalagi untuk sebuah ikatan rumah tangga bukan antara kedua insan manusia yang dimabuk asmara, tapi tentang dua keluarga. Bagaimanapun penghormatan yang tinggi terhadap prinsip keluarga yang masih jauh memegang erat adat jawa, untuk tetap membawa weton dalam memilih pasangan jadi alasan untuk tidak melanjudkan cinta pertama mereka menjadi bahagia. Weton keduanya setelah dihitung ketemu 25 yang artinya kematian. Maknanya, jika mereka tetap menikah maka salah satu keluarga bahkan bisa juga diantara mereka berdua akan meninggal dunia. Sesungguhnya baik Inal maupun maupun Dati sudah tidak menggunakan weton sebagai patokan, namun lagi-lagi penghormatan terhadap prinsip orang tua menjadi alasan untuk tidak melanjudkan kebersamaan mereka.

Seperti mendengarkan drama India saya mendengarkan penuturan Dati. Dalam kata yang terucap Dati mencoba kuat, namun dalam hati ada sebuah bangunan cinta yang tiba- tiba runtuh seketika . Kadang air mata tidak bisa mewakili sebuah hati yang terluka namun keimanan untuk percaya bahwa akan ada jodoh yang terbaik yang obat pelipur lara yang mujarab tiada tara.

Kita doakan ya pembaca, semoga mereka berdua mendapatkan pasangan hidup dengan orang, waktu, serta tempat yang tepat. Karena jodoh tidak akan keliru. Kisah perjalanan yang terlalui untuk mendapatkan pasangan hidup bukan sebuah pengalaman kesia-sian dan menyakitkan namun merupakan pembelajaran yang berhargai untuk kehidupan

Must Read

Tips Memilih Baju Lebaran Yang Anggun

Tips Memilih Baju Lebaran dengan mudah. Sebentar lagi bulan Ramadan segera berlalu. Itu artinya hari raya lebaran segera datang. Lebaran Idul Fitri selalu identik...

Pengalaman Menjual Paket Kue Lebaran Paling Laku dan Banyak Dicari

Pengalaman Menjual Paket Kue Lebaran Paling Laku dan Banyak Dicari Bisnis penjualan kue lebaran memang jadi salah satu usaha musiman yang menarik untuk dicoba. Apalagi...

Resensi dan Review Buku Biografi Idrus A. Paturusi : Dokter medan Lara

Resensi dan Review Buku Biografi Idrus A. Paturusi : Dokter medan Lara Pertama mendapatkan buku biografi Idrus Paturusi ini, saya langsung tertarik. Meskipun...