Masa Kecil dan Maulid Nabi Muhammad SAW

gambar dari sini

Hari ini saya melihat anak- anak Sekolah Dasar menggunakan busana muslim yang bukan seragam sekolah mereka. Ada wajah kegembiraan yang tercermin dari raut mukanya, serta biasanya tas dan buku pelajaran yang mereka bawa, kini tergantikan dengan buah tangan yang akan dimakan bersama setelah mengikuti serangkaian acara maulidan.

Saya kemudian teringat masa kecil akan penantian sebuah Maulid Nabi. Bahkan jauh sebelum anak sekolah dasar yang saya lihat merayakan, saya telah menantikan setiap tahunnya. Ketika mbak Rifah, kakak saya yang sedang duduk di sekolah dasar kala itu berangkat merayakan mauled nabi, akan dengan setia saya akan menunggu kedatangannya. Bukan tanpa alasan, karena sesungguhnya saya sedang menunggu takir (bekal yang dimakan bersama di sekolah ketika ada acara keagamaan) sisa mbak rifah dari sekolah. Jikalau dihabiskan pasti saya akan menangis. Padahal, di rumah pun sebenarnya ada persediaan makanan yang sama yang emak buat, namun entahlah takir itu bagi saya terasa lebih nikmat, walau sesungguhnya hanyalah sisa. Dan, kebiasaan itupun berakhir, ketika saya sendiri masuk sekolah dasar. Itu artinya tidak perlu menunggu takir, karena saya sendiri yang membawa dan makan bersama di sekolah.

Pada sorenya pun, ketika mengaji hal yang sama dilakukan yaitu membawa takir. Saya ingat betul ketika itu berangkat ke masjid dengan di bonceng mbak Rifah. Karena terburu- buru, kami melewati jalan pintas yang kecil. Ketika tiba di belokan, entah kenapa kaki saya tersangkut sebuah pohon sehingga kami pun jatuh. Sehingga takir yang kami bawa pun berantakan, bahkan telur rebus yang emak bawakan entah menggelinding kemana. Karena kami tak ingin melewati takiran di masjid, walau dengan takir yang tersisa dan lauk seadanya kami berdua tetap melanjudkan berangkat ke masjid untuk bisa makan bersama.

Setiap pergi ke sebuah pusat perbelanjaan dan melihat kotak makan dengan aneka ragam bentuk dan gambar saya ingat masa masa takiran dulu. Seperti sebuah barang mewah memiliki kotak makan dengan beberapa sekat sebagai tempat lauk dan nasi. Tempat kami dulu adalah sebuah rantang seng, sehingga ketika makan bersama selain riuh suara kebahagian juga suara dentingan seng dan sendok. Begitupun juga tempat minum, jarang sekali yang memiliki. Namun di situlah sesungguhnya makna kebersamaan kami, saya dan beberapa teman akan urunan untuk membeli minuman botol dan nantinya setelah makan bersama akan di bagi.

Rasanya jika mengingat masa- masa itu waktu cepat sekali berlalu. Kami yang tak tahu apa makna sesungguhnya mauled nabi kala itu, hanya sebatas tanggal 12 rabiul awal adalah kelahiran baginda nabi namun bersuka cita menyambutnya. Dan sekarang giliran pada masa dewasa, pemaknaan terhadap mauled nabi sendiri harus lebih mendalam, sehingga tidak hanya euphoria tanggal merah libur kerja namun juga semakin meningkatkan kecintaan kita pada sang baginda dan juga taat kepadaNya.

Berita sebelumyaHigh Quality Blogger
Berita berikutnyaMengedukasi atau Menjual?

Must Read

Tips Memilih Baju Lebaran Yang Anggun

Tips Memilih Baju Lebaran dengan mudah. Sebentar lagi bulan Ramadan segera berlalu. Itu artinya hari raya lebaran segera datang. Lebaran Idul Fitri selalu identik...

Pengalaman Menjual Paket Kue Lebaran Paling Laku dan Banyak Dicari

Pengalaman Menjual Paket Kue Lebaran Paling Laku dan Banyak Dicari Bisnis penjualan kue lebaran memang jadi salah satu usaha musiman yang menarik untuk dicoba. Apalagi...

Resensi dan Review Buku Biografi Idrus A. Paturusi : Dokter medan Lara

Resensi dan Review Buku Biografi Idrus A. Paturusi : Dokter medan Lara Pertama mendapatkan buku biografi Idrus Paturusi ini, saya langsung tertarik. Meskipun...