Dia Bukan Kekasihku

1 min read

       Withing Tresno jalaran soko kulino. Benar juga pepatah jawa tersebut, dan saya sekarang merasakannya. Kebiasaan saya menggunakan motor untuk kerja, belanja, atau pulang kampoeng sekalipun membuat kecintaanku pada kendaraan umum mulai luntur. Apalagi kendaraan yang bernama bis terutama.Jika jarak yang ditempuh cukup jauh bisa menggunakan PATAS dengan AC dan tempat duduk yang nyaman. Namun beda jika jaraknya tidak jauh, pasti mendekati bis saja akan diusir oleh keneknya. Ugal- ugalan, penuh sesak dan tentu bau yang khas (baca: bau keringat, rokok, atau bahan bakar) menjadi perhatian tersendiri ketika hendak memutuskan naik bis.

           Kadang keterpaksaan membuat kita β€œnekad” untuk melakukannya. Dan, ketika harus menyusul suami (baca : 19 Kembali), mau tak mau saya melakukannya. Dan, ternyata sugesti saya bahwa naik bis akan membuat saya mual nantinya membuat benar- benar nyata bagi saya. Rasa mual karena mabuk kendaraan membuat saya ingin makan sesuatu yang bisa menghilangkan mual tersebut sesampai di tempat tujuan. Di pikirannya saya, sesuatu yang panas, pedas dan gurih mungkin bisa setidaknya mengurangi mual tersebut. Meski dalam pikirannya saya, wong mulut ingin bakso saja kenapa perut ikut mual segala.

Akhirnya, sesampai saya di jemput suami di halte, kedai bakso di pinggir jalan yang telah terkenal kenikmatannya menjadi pilihan. Sementara suami membelikan saya tisu basah yang saya butuhkan, saya pun lebih dulu memesan satu mangkuk bakso. Tanpa basi- basi saya duduk di depan meja seorang laki-laki yang sedang menikmati bakso (karena hanya kursi itu yang kosong), jadinya bisa di tebak kami seperti sepasang kekasih yang sedang kencan #hahay. πŸ˜€

Bagi ku tak masalah( cuma semeja saat makan saja kan?), karena saya telah menikah dan pergi pun bersama suami meskipun sekarang lagi pergi. Namun tidak terlalu lama, datang beberapa teman dari lelaki di depanku tadi, serta merta mereka menyangka bahwa saya kekasih lelaki tersebut. Berbagai sindiran mereka lontarkan, dan lelaki di depanku hanya bisa menyangkal dan tak berdaya. Karena bagaimanapun saya duduk berhadapan dan satu meja dengannya. Sedangkan, saya hanya cuek saja. Cengar- cengir tanpa merasa bersalah #usil ku kumat :D. Kapan lagi bisa begini. hehehe

Tidak beberapa lama suami saya datang, dan kemudian mendekati saya. Sikap manja dan panggilan “sayank” pun saya tujukan pada suami. Secara tak langsung saya tunjukkan bahwa saya telah menikah, dan lelaki di depan saya dia bukan kekasih saya. Tak ada lagi sindiran dan teriakan yang semula mengira kalau saya kekasih saya. mereka hanya malu dan berbisik- bisik sesama teman mereka. Ku tinggalkan mereka, dan sampai sekarang lucu juga jika mengingatnya.

Avatar

8 Replies to “Dia Bukan Kekasihku”

  1. hahahaa dikira kekasih orang ya mbak, hehehe… itu gimana rasanya ya orang2 yang pada nyindir tadi setelah tau mbak udah nikah, pasti malu banget tuh πŸ˜€

  2. Langsung diem itu tanda mereka malu, hehehe.. ya itulah pentingnya menjaga ucapan dari hal-hal yang tidak kita ketahui mbak, hehehe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *