Dilema Seorang Wanita

Mengapa saya tidak bekerja?. Bukankah saya dokter? Memang. Dan sangat mungkin untuk saya bekerja saat itu. Namun, saya pikir buat apa tambahan uangdan kepuasaan batin yang barang kali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan resiko kami sendiri kehilangan kedekatan pada anak sendiri? Apa artinya tambahan uang dan kepuasaan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang dan saya bentuk sendiri pribadinya?Anak saya akan tidak mempunyai ibu. Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak? Seimbangkah orang tua kehilangan anak dengan uang dan kepuasaan pribadi tambahan karena bekerja? Itulah sebabnya saya putuskan menerima hidup pas-pasan. Tiga setengah tahun kami bertiga hidup begitu (Ainun Habibie, Tahun- tahun pertama)”

Membaca kutipan diatas rasanya saya juga tak akan rela menyerahkan perawatan buah hati saya pada orang lain. Apalagi pada khadimat/ baby sitter. Benar kutipan diatas, jika saya melakukannya itu artinya saya akan kehilangan kejutan dan hadiah istimewa melihat perkembangan si buah hati sediap detiknya. Bukan itu saja, usia 0- 6 tahun sebagai Golden Ages buah hati akan terstimulasi maksimal jika ibu meluang waktu. Itulah sebuah andai dan do’a tentunya jika buah hati telah di amanahkan kepada saya dan suami.

Ada kekawatiran tersendiri, apakah nanti saya mampu melaksanakan tugas sebagai ibu yang sesungguhnya (benar- benar merawat)  bagi si buah hati atau hanya sebagaian waktu sisa kerja dengan penuh kelelahan untuk merawat mereka?. Karier yang sedang saya tapaki, atau tuntutan ekonomi membuat saya dapat berpaling dan menyerahkan pengasuhan pada orang lain. Jika ada hubungan keluarga mungkin saya masih bisa merasa lega meninggakan mereka dan bekerja. Beda lagi jika perawatnya bukan siapa- siapa, dan pendidikan dan keahlian merawat baby pun masih diragukan. Sementara orang terdekat dengan buah hatilah yang menjadi guru pertama mengenal dunia dan belajar kehidupan dan cinta..

Memang banyak juga wanita yang bekerja namun tetap bisa mendidik buah hati mereka. Namun saya percaya, sebagai wanita mereka mempunyai dilema yang sama dengan saya. Ingin menjadi ibu yang sesungguhnya bagi buah hati mereka..

Berita sebelumyaSemangat Blogging
Berita berikutnyaMenemukan “LAISA 2”

Must Read

Tips Memilih Baju Lebaran Yang Anggun

Tips Memilih Baju Lebaran dengan mudah. Sebentar lagi bulan Ramadan segera berlalu. Itu artinya hari raya lebaran segera datang. Lebaran Idul Fitri selalu identik...

Pengalaman Menjual Paket Kue Lebaran Paling Laku dan Banyak Dicari

Pengalaman Menjual Paket Kue Lebaran Paling Laku dan Banyak Dicari Bisnis penjualan kue lebaran memang jadi salah satu usaha musiman yang menarik untuk dicoba. Apalagi...

Resensi dan Review Buku Biografi Idrus A. Paturusi : Dokter medan Lara

Resensi dan Review Buku Biografi Idrus A. Paturusi : Dokter medan Lara Pertama mendapatkan buku biografi Idrus Paturusi ini, saya langsung tertarik. Meskipun...