Menanti Dia

Tak banyak yang bisa ku ungkap dengan kata tentang dia. Pertemuan yang tak lebih hanya dari jumlah salah satu jari tangan kita, tak mampu diriku mendiskripsikan dia. Keindahan akhlaknya yang membuat diri berharap suatu saat bisa halal untuknya, yang jadi sebuah inspirasi untuk menulis tentang dia. Akhlak itu saja. Karena kita, aku dan dia memahami tak seharusnya rasa terjalin sebelum ikatan suci. Menjaga hati sampai Allah sungguh mempersembahkan dia jika memang untuk melengkapi hidup saya.

Yang ada di ingatan ku tentang dia yang ku nanti, tingginya dia yang beberapa centi meter di atas ku, mempersilahkan aku untuk menempati kursi bis yang jadi jatahnya. Menghalau orang lain yang berusaha merebutnya, mengikhlaskan dirinya berjam-jam berdiri untuk kasih sayang dan perlindungan bagi wanita yang tak di kenalnya. Sekilas, di tangan kirinya memegang buku tentang islam, yang mengisyaratkan dia haus akan pengetahuan.  Wajahnya tak tampan, hanya jenggot tipis dan pandangan teduh yang bertemu sebentar dengan mataku, ketika terima kasih aku sampaikan. Kemudian hati ini tiba-tiba yakin, pandangan dia terjaga dari yang haram untuk dinikmati. Pergaulannya terhindar dari yang hal tak patut, karena kepahaman dia tentang harus adanya batas antara lawan jenis. Ya, dia tak lebih dari lelaki biasa yang mempunyai jiwa luar biasa. 

Dia yang ku nanti, bukan aktivis dakwah dengan tingginya jam terbang. Bukan pria hebat dengan sematan gelar dari keluaran PTN terkenal. Bukan pula, Dia tampan dengan segala kemewahan. Serta, yang pandai beretorika dalam debat kenamaan. Tetapi setiap adzan berkumandang, dia meninggalkan aktifitasnya untuk menuju kekasihNya yang utama, mengabdikan hidupnya untuk melayani sesama dan menerapkan ajaran agama dalam setiap lini kehidupannya. Dia yang ku nanti, tak lebih dari manusia lainnya dengan asam manis pengalaman. Jatuh bangun dalam mencari jalan kebaikan, karena semua itu adalah proses dan sunah dalam perjuangan. Tapi, dia tak diam stagnan. Mencoba terus bergerak dengan ide brilian dan langkah yang kongkrit dalam menjejakkan cita-cita kenyataan. Masa lalu adalah spion kehidupan yang boleh dilihat sebagai bahan refleksi tapi tak untuk terus di nikmati sehingga terbuai oleh mimpi. Dia yang ku nanti, bukan malaikat dengan segala kesempurnaan, tapi manusia biasa yang terus belajar tentang makna kehidupan.

Berita sebelumyaTanda -Tanda Qolbu yang Sehat
Berita berikutnyaTa’aruf, Keren Men

Must Read

Tips Memilih Baju Lebaran Yang Anggun

Tips Memilih Baju Lebaran dengan mudah. Sebentar lagi bulan Ramadan segera berlalu. Itu artinya hari raya lebaran segera datang. Lebaran Idul Fitri selalu identik...

Pengalaman Menjual Paket Kue Lebaran Paling Laku dan Banyak Dicari

Pengalaman Menjual Paket Kue Lebaran Paling Laku dan Banyak Dicari Bisnis penjualan kue lebaran memang jadi salah satu usaha musiman yang menarik untuk dicoba. Apalagi...

Resensi dan Review Buku Biografi Idrus A. Paturusi : Dokter medan Lara

Resensi dan Review Buku Biografi Idrus A. Paturusi : Dokter medan Lara Pertama mendapatkan buku biografi Idrus Paturusi ini, saya langsung tertarik. Meskipun...